Perpisahan,
suatu kegiatan yang tak perlu banyak usaha untuk membuat kita membencinya.
Siapa
yang tidak benci perpisahan?
Aku
salah satunya.
Tapi
aku sadar. Sebenci apapun kita dengan perpisahan, kita tetap membutuhkannya. Ada
waktu, orang, tempat, benda, kejadian, dan kenangan yang mengharuskan kita
memilih perpisahan sebagai suatu penyelesaian semata-mata untuk beranjak ke
titik selanjutnya.
Maaf untuk
judul yang cukup “ngajak ribut” ini. Terkesan arogan karena gue udah gak lama
nulis, eh sekalinya balik malah ngajakin tauran. HAHAHA (nada dipaksa)
Back to the point!
Malem
ini (ya, gue nulis ini malem-malem) gue kembali mencoba menulis, kegiatan yang
udah lama gue tinggalin, dengan sedikit bersusah payah membongkar isi pikiran
gue. Gue hari ini resmi menjalani semester dua di perkuliahan (sebenernya udah masuk minggu ke tiga sih). Cepet banget ya?
Iya. Banget.
sebagai permohonan maaf dari lubuk hati yang paling dalam
Dear my old friend, Blog
Apa
kabar mu, kawan? Maaf, sedikit melupakan kebersamaan kita dulu, hehehe. Sudah
hampir dua bulan, ahhh ternyata sudah tiga bulan lamanya aku tak menyapamu sama sekali. Apa kau marah? Aku
mohon, maafkan aku.
Seperti
kacang lupa kulitnya, aku menghampirimu ketika aku berkeluh kesah saja, tapi
kini.....hidupku terlalu datar sehingga aku tak tau apa yang harus ku resahkan
padamu. Sekali lagi maaf.
Mari
kita bersama kembali. Mengisi hari dengan rajutan kalimat disisi.
Januari mulai berlalu dan hampir habis. Sumpah, ini cepet banget yaaa!! -_-
Oke, di tahun 2014 ini gue mau bikin beberapa perubahan di blog gue. Tapi perubahan yang gue wacana-kan terus menerus terbengkalai. Bukan karena banyak PR atau apalah itu, tapi karena gue kehilangan feel buat nulis atau lebih tepatnya memegang laptop. Hmm.. maksud gue, gue lagi berada di titik jenuh dan titik puncak mager. Gue akui, mager adalah nama lain gue.